Hai kamu yang berada di ratusan km jaraknya dariku. Hai kamu yang selalu di
hatiku, selalu mencuri setiap waktuku untuk hanya memikirkanmu, hai kamu yang
perhatiannya tak pernah sampai padaku, hai kamu yang tidak pernah mau tau
tentang perasaanku. Aku lelah.
Aku lelah dengan semuanya. Aku muak. Bisakah aku menangis dalam
dekapmu diantara jarak yang membentang, diantara ketidakpedulian yang terhampar
luas?
Aku ingat dulu, kau selalu ada untukku, selalu memperdulikanku,
selalu mencariku. Ya, itu dulu saat perasaan kita masih kita pertanyakan,
ketika hubungan belum terjalin, semuanya manis hingga tiba 2 bulan setelah
semuanya.
Berubah. Ya, aku rasa kau memperlakukanku seperti benda yang tidak memiliki perasaan. Benda yang seenaknya kau perlakukan sesuka hati. Taukah kau ini menyakitkan? Mengetahui bahwa sebenarnya kau yang manis dulu adalah bukan kau yang sebenarnya. Ternyata keindahan yang kau ciptakan hanya untuk mengambil perhatianku, dulu.
Namun, setelah semua perhatianku kau dapatkan, setelah perasaan
sayangku telah terbentuk, kau berubah. Kau tak seperti dulu. Aku merindukan kau
yang dulu. Aku merindukan itu walaupun berpura-pura.
Hubungan kita seakan hanya dijadikan status saja. Aku kini hanya
menjadi benda yang dulu kau inginkan namun setelah itu hanya kau simpan di
dalam lemari hatimu. Sama dengan sebuah trophy bukan?
Aku ingin menjadi partner hidupmu, partner dalam menjalani kehidupan, bukan menjadi trophy. Aku ingin kau percaya padaku dan membagikan ceritamu kepadaku, aku seperti benda yang sesekali kau lihat dan kau bersihkan sesekali.
Semakin sulit tiap harinya aku jalani. Keraguan semakin tajam aku
rasakan, menyayat-nyayat hubungan kita, membunuhku pelan-pelan.
Apa yang harus aku perbuat sayang untuk mempertahankan hubungan ini? Tidakkah kau juga memiliki andil dalam menjaganya? Namun mengapa hanya aku, mengapa hanya aku yang peduli? Kemana kau selama ini?
Kau akan memperlihatkan penyesalanmu, memperlihatkan keseriusanmu untuk dapat mengerti aku, ketika
aku sudah hampir menyerah. Kau memberiku kekuatan lagi. Namun selalu
penyesalanmu, keseriusanmu untuk mengerti hanya sebatas perkataan, hanya hari
itu. karena esok kau kembali menjadi kau yang tak perduli.
Teruskan sayang, teruskan saja..
Aku tetap disini, sampai hilang kesabaranku..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar